Apakah benar cinta ada masa kadaluarsa?
Sudah tak terasa indah,dan sudah tak berbunga.
Apakah ia layu karena tuannya?
atau karena memang setiap hal ada masanya?
Dulu cinta yang kurasa terasa membara
Namun entah apa yang kurasa sekarang tidak lagi pada rasa awalnya.
Mengingat semua yang terjadi adalah hal yang indah
Dan begitu gundah saat berbeda
Salahkan jika aku berharap kita dalam titik yang sama
Titik yang selalu membara, setidaknya itu menghangatkan
Sedikitpun aku tidak mau ada yang berbeda dari kita
Visualisasi ku tentang kita rupanya terlalu jauh
Sanggupkah kita merealisasikannya?
Rasanya tidak mau,
Sapu tangan yang disulam dengan baik,
Sarus terurai berantakan kembali
Terlalu membuang waktu
Jarum yang sudah melukai tangan,
Benang yang sudah terpasang,
Terlalu menyedihkan bila hanya menjadi gulungan tak berarti
Tuan, jika memang sudah tak sehangat dulu
Apakah harus sedingin ini?
Bukankah kau yang dulu meyakinkanku tentang hangatnya rumah dengan tungku api yang menyala?
Mengapa sekarang kau biarkan aku kedinginan di dalam rumah itu?
Menyelimuti tubuhku saja rasanya engkau enggan
Haruskan ku mati kedinginan
Atau kubakar rumah ini agar api itu kembali menyala?
Bagaimanapun hati ini sudah luruh karenamu
Takan bisa ku percaya lagi
Sungguh ku pernah merasakan yang seperti ini dulu
Apakah kali ini ku harus merasakannya lagi?
Pada akhirnya kaupun akan menumui rasa bosan mu
Lalu pergi meninggalkan ku
Dengan rasa terburukku
Aku akan merindukan hari-hari manis itu
Apa karena kau terlalu menggebu diawal?
Sehingga yang ku rasa sekarang adalah serpihan dari ambisimu?
Aku memang bukan seseorang yang pantas terus kau pertahankan
Tapi sungguh, kau sudah terlalu jauh untuk membuat hatiku kembali utuh dan jatuh
Aku tidak mau mengubah tokohmu menjadi peran antagonis dihidupku
Tapi bohong, dengan cara apapun dan kondisi bagaimanapun kau akan menjadi tokoh antagonis dalam hidupku
Jika kau pergi, meninggalkan semua rasa sesak didada yang tak terkira yang tak ingin lagi aku temui obatnya apa
Atau memang sebenarnya kau dari dulu adalah tokoh antagonis?
Yang masuk dalam hidupku dan berpura-pura baik
Dengan diam-diam dan perlahan menusukan pisau itu ke dalam hatiku agar tertancap dengan dalam
Kalaupun iya, maka akan ku biarkan tubuhku pasrah tertikam pisau itu, berdarah dan tamat
Tidak ada lagi kamu, aku, dan kisah kita
Aku akan pergi dengan tenang tanpa merasakan sakit melihatmu pergi.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”