Menuju Akhir

Tidak ada lagi kamu, aku, dan kisah kita

Apakah benar cinta ada masa kadaluarsa?

Advertisement

Sudah tak terasa indah,dan sudah tak berbunga.

Apakah ia layu karena tuannya?

atau karena memang setiap hal ada masanya?

Advertisement

Dulu cinta yang kurasa terasa membara

Namun entah apa yang kurasa sekarang tidak lagi pada rasa awalnya.

Advertisement

Mengingat semua yang terjadi adalah hal yang indah

Dan begitu gundah saat berbeda

Salahkan jika aku berharap kita dalam titik yang sama

Titik yang selalu membara, setidaknya itu menghangatkan

Sedikitpun aku tidak mau ada yang berbeda dari kita

Visualisasi ku tentang kita rupanya terlalu jauh

Sanggupkah kita merealisasikannya?

Rasanya tidak mau,

Sapu tangan yang disulam dengan baik,

Sarus terurai berantakan kembali

Terlalu membuang waktu

Jarum yang sudah melukai tangan,

Benang yang sudah terpasang,

Terlalu menyedihkan bila hanya menjadi gulungan tak berarti

Tuan, jika memang sudah tak sehangat dulu

Apakah harus sedingin ini?

Bukankah kau yang dulu meyakinkanku tentang hangatnya rumah dengan tungku api yang menyala?

Mengapa sekarang kau biarkan aku kedinginan di dalam rumah itu?

Menyelimuti tubuhku saja rasanya engkau enggan

Haruskan ku mati kedinginan

Atau kubakar rumah ini agar api itu kembali menyala?

Bagaimanapun hati ini sudah luruh karenamu

Takan bisa ku percaya lagi

Sungguh ku pernah merasakan yang seperti ini dulu

Apakah kali ini ku harus merasakannya lagi?

Pada akhirnya kaupun akan menumui rasa bosan mu

Lalu pergi meninggalkan ku

Dengan rasa terburukku

Aku akan merindukan hari-hari manis itu

Apa karena kau terlalu menggebu diawal?

Sehingga yang ku rasa sekarang adalah serpihan dari ambisimu?

Aku memang bukan seseorang yang pantas terus kau pertahankan

Tapi sungguh, kau sudah terlalu jauh untuk membuat hatiku kembali  utuh dan jatuh

Aku tidak mau mengubah tokohmu menjadi peran antagonis dihidupku

Tapi bohong, dengan cara apapun dan kondisi bagaimanapun kau akan menjadi tokoh antagonis dalam hidupku

Jika kau pergi, meninggalkan semua rasa sesak didada yang tak terkira yang tak ingin lagi aku temui obatnya apa

Atau memang sebenarnya kau dari dulu adalah tokoh antagonis?

Yang masuk dalam hidupku dan berpura-pura baik

Dengan diam-diam dan perlahan menusukan pisau itu ke dalam hatiku agar tertancap dengan dalam

Kalaupun iya, maka akan ku biarkan tubuhku pasrah tertikam pisau itu, berdarah dan tamat

Tidak ada lagi kamu, aku, dan kisah kita

Aku akan pergi dengan tenang tanpa merasakan sakit melihatmu pergi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Hi, welcome! I'm not good as speaking as I say. Therefore I write it. Though my writing is ugly. Just this way I make a sound. Can you hear it?