Setiap negara memiliki keunikan dan budayanya sendiri. Ini kemudian berpengaruh pada perilaku dan kebiasaan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Begitu pun yang terjadi di negara kita tercinta ini. Ada beberapa keunikan dan kebiasaan yang hanya dimiliki oleh orang Indonesia.
Kali ini Hipwee akan mengajakmu melihat ketakutan dan kecemasan konyol yang sering dirasakan oleh orang Indonesia. Saat di negara lain ketakutan ini akan dianggap aneh atau irasional, kita menganggap kecemasan ini sebagai hal yang wajar dirasakan. Apakah kamu juga pernah merasakan kecemasan yang sama?
ADVERTISEMENTS
1. Ditangkap Polisi vs Kecelakaan: LEBIH TAKUT DITANGKAP POLISI
(di sebuah jalan raya yang tak ada polisinya)
X: “Heh, jangan lewat sini! Itu lho ada tanda larangan muter!”
Y: “Alaah gak pa-pa, gak ada polisi kok…”
(mereka berputar dengan inosen, seakan tak mungkin tertabrak kendaraan lain)
(di sebuah jalan raya yang dijaga polisi)
Y: (hampir berputar di perempatan yang ada tanda larangan berputar) “Eh, gak jadi ah. Ada polisi.”
X: “Elah, tumben amat ini. Lebih takut polisi ya daripada kecelakaan?”
Orang Indonesia memang sering menempatkan posisi polisi di bawah Tuhan dan Dosen Pembimbing Skripsi. Kalau mau melanggar rambu lalu lintas, yang ditakuti adalah ketahuan Polisi. Bukan karena takut kecelakaan atau kehilangan nyawa.
ADVERTISEMENTS
2. Kita Sering Takut Melakukan Berbagai Hal Sendirian
Kultur Indonesia yang sangat komunal membuat kita terbiasa melakukan berbagai hal dalam kelompok. Sendirian, jadi sering terasa aneh dan tidak nyaman dilakukan. Apa aja sih yang orang Indonesia takut lakukan seorang diri?
ADVERTISEMENTS
a. Sendirian di Malam Minggu
ADVERTISEMENTS
b. Makan sendirian
Mending mana, mati kesepian atau mati kelaparan? Kalau mau makan ya makan aja….. jangan takut!
ADVERTISEMENTS
c. Nonton sendirian
Mungkin yang sering bikin kamu keki adalah pertanyaan mbak-mbak penjaga konter tiket di bioskop:
Kamu: “Guardians of the Galaxy ya, Mbak.”
Mbak Bioskop: “Berapa tiket?”
Kamu: “1 aja mbak.”
Mbak Bioskop: “1 tiket aja ini Mas?”
Kamu: (dalam hati) Apa salahku kalau cuma beli 1 tiket? Apaaa?
ADVERTISEMENTS
d. Kondangan sendirian
Ke kondangan sendirian itu kadang bikin makan hati. Pertanyaan, “Kapan nyusul?” dan “Mana pendampingnya?” akan banyak kamu jumpai di acara formal macam ini.
d. Ke toilet…sendirian (?)
Boleh tanya gak, pada ngapain sih di toilet sampai harus barengan gitu perginya? Pipis berjamaah apa? Itu toilet atau photo-box?
Mungkin kita hanya lupa akan hal ini…..
Nanti kalau mati juga sendirian, loh!
Bukan bermaksud menakutimu dengan buntalan putih di atas, Hipwee hanya ingin bilang bahwa tidak selamanya pendampingan itu diperlukan. Kamu tetap bisa kok melakukan berbagai hal meski sendirian.
Hipwee pernah menulis artikel “Hal-Hal yang Sebenarnya Bisa Kita Lakukan Sendiri” untuk memberimu sudut pandang lain soal kesendirian. Gak selamanya melakukan hal sendirian itu aneh, kok!
3. Takut dan malu-malu saat disuruh ambil giliran pertama untuk melakukan sesuatu
Biasanya kita malu-malu saat diberi kesempatan untuk jadi orang pertama yang melakukan sesuatu dalam sebuah kelompok. Mengemukakan pendapat pertama kali di kelas, misalnya.
Ada rasa malu, takut, dan cemas pendapatnya salah. Baru deh setelah ada seseorang yang membuka giliran, teman-teman lainnya mau buka suara.
Dosen: “Jadi gimana, ada yang mau berpendapat?”
Mahasiswa: (diam)
Dosen: “Ada yang mau memberikan pendapatnya?”
Mahasiswa: (saling lihat) (melempar kode biar ada yang ngejawab duluan)
Dosen: (agak kesal) “Kalian ini kok gak nyambung ya? Ibaratnya kalimat ‘Saya datang, bebek mati.’ Gak nyambung ‘kan? Ayo coba ada yang berpendapat! Kalau tidak, kita tidak akan akhiri kelas ini.”
Mahasiswa: (terpaksa mulai tunjuk jari, daripada gak pulang ‘kan?)
4. Takut kalah pintar dibandingkan orang luar negeri
Ini adalah ketakutan yang sering dihadapi mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di negeri asing. Kadang kita merasa rendah diri karena merasa tidak sepintar teman-teman dari negara lain. Kadang kita lupa bahwa beban sistem pendidikan Indonesia itu jauh lebih berat dibanding pendidikan di negara-negara lain.
Gak perlu takut kalah pintar, secara akademis kita sangat bisa bersaing kok dengan mereka. Asal berani bicara dan mengungkapkan pendapat saja.
5. Takut kekurangan makanan yang cocok di lidah saat ke luar negeri, sampai memenuhi koper dengan makanan yang nantinya dibuang oleh petugas bandara
Mau ke luar negeri, bawaannya bejibun. Bawa Indomie, bawa sambal instan, bawa beras, sampai bawa cobek buat ngulek sambel.
Padahal barang-barang berupa makanan biasanya akan langsung disita oleh petugas keamanan bandara luar negeri. Lagipula di negara beda benua pun normalnya ada Asian Market kok, tempatmu bisa menemukan beras dan berbagai makanan khas Asia lain.
6. Takut anjing tanpa alasan yang jelas
Sebagai negara yang penduduknya mayoritas Muslim, anjing jadi binatang yang sering ditakuti. Bahkan ada beberapa kawasan perumahan yang melarang warganya memelihara anjing, dengan alasan “mengganggu keamanan bersama”.
Walaupun anjingnya tidak sakit atau bertingkah, banyak dari kita memperlakukan binatang lucu yang tanpa dosa ini dengan semena-mena.
Pak, yang mengganggu keamanan bersama itu koruptor yang seenaknya ambil uang kita. Bukan anjing.
Pertanyaannya, kenapa kita gak melarang kodok masuk ke perumahan?
Dia juga haram, loh….
7. Lebih takut ketahuan guru pas nyontek, dibanding dirugikan karena kebiasaan buruk ini
Walau terlihat kecil, tapi kebiasaan menyontek bisa membawa pengaruh buruk bagi hidupmu. Kalau terlalu terbiasa menyontek, kamu akan jadi pribadi yang menggampangkan segala sesuatu dan tidak lagi paham maknanya kerja keras. Sumpah deh, mendingan dapat nilai jelek dibanding harus kehilangan masa depan karena kebiasaan ini.
8. Takut rugi, sampai antre apapun menjelang harganya naik
Pertanyaannya, seberapa signifikan sih penghematan yang bisa kamu lakukan? Apakah sebanding dengan pengorbanan waktu dan tenaga yang kamu keluarkan?
9. Juga takut ketinggalan zaman, sampai rela antri apapun yang baru buka
H&M baru buka, antrean panjaaaanggggg…
Union baru buka, antrian juga panjang…
Beberapa bulan kemudian, toko-toko tersebut sudah lengang dan bisa kamu masuki dengan nyaman loh padahal….
10. Takut diejek jomblo sampai repot cari pacar
Banyak anak muda Indonesia merasa bahwa status jomblo itu tidak layak disandang. Mereka akhirnya sibuk menggunakan masa sekolah dan kuliahnya untuk mencari pacar dan berpacaran. Kalau bertanggung jawab dan bisa membagi waktu sih nggak masalah, tapi banyak juga yang pendidikan dan masa mudanya keteteran karena masalah cinta.
Jangan takut diejek jomblo. Takut itu sama Tuhan!
11. Buat cewek, kadang takut diejek perawan tua
Takut diejek perawan tua? Bilang aja:
Bunda Teresa juga perawan. Udah tua juga. Hidupnya bermakna, kok!
Dijamin orang yang mengejekmu itu akan mak-klakep. Diam seribu bahasa.
12. Takut salah berpendapat, tapi ngomongin di belakang
(rapat Korps Mahasiswa membahas rencana konser)
Fadil: “Jadi gimana nih, pada setuju nggak kalau besok ngundang Mocca?”
Jali: (dalam hati tidak setuju) (takut salah ngomong, jadi diam aja)
Fadil: “Oke, deal ya guest star kita Mocca?
(beberapa jam kemudian)
Jali: “Heran gue sama Fadil, kok dia ngundangnya Mocca ya? Kan udah ketinggalan zaman banget.”
Lala: “Lah, kalau gak setuju kenapa nggak ngomong aja tadi di rapat?”
Jali: “Gak enak gue La, takut salah ngomong…..”
SAUDARA-SAUDARA, ketahuilah bergumam di belakang itu tidak akan menyelesaikan masalah.
13. Takut miskin
Hingga rela memiskinkan orang-orang yang hak-nya sepatutnya diperjuangkan. Sayangnya ketakutan ini banyak menghinggapi petinggi dan orang-orang terkemuka di jajaran pemerintahan kita.
Karena mereka takut miskin, korupsi merajalela. Akhirnya kita yang kena batunya.
14. Takut kalah dan kehilangan kekuasaan
Beberapa dari kita amat takut kehilangan kekuasaan hingga menghalalkan beragam cara demi memenangkan sesuatu. Mulai dari menggunakan politik uang, pakai koneksi, sampai menjatuhkan lawan.
Tidak banyak yang se-legowo Fauzi Bowo, yang langsung mengucapkan selamat pada Jokowi setelah ia dinyatakan terpilih sebagai Gubernur Jakarta. Beberapa dari kita (bahkan termasuk pejabat tinggi negara) belum punya mentalitas sesiap beliau dalam menghadapi kekalahan.
Kadang kita lupa: Kalau kemenangan didapat dari jalan yang buruk, bukankah nanti hasilnya juga akan buruk?
Masih banyak hal lain yang lebih layak kita cemaskan dalam hidup. Stop takut pada hal-hal yang justru bisa menghancurkan hidupmu. Menghadapi berbagai tantangan hidup dengan penuh keberanian dan sportivitas tinggi itu menyenangkan, loh!