Nggak seperti saat orangtua kita masih muda dulu, saat di mana pencarian informasi atau ilmu pengetahuan nggak semudah dan sefleksibel sekarang. Kini, hanya dalam genggaman pun, kita bisa mengakses informasi yang nggak terbatas jumlahnya. Belajar jadi bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, nggak harus lewat institusi formal atau melalui proses rekrutmen yang rumit.
Apalagi saat ini sudah banyak akun-akun di media sosial yang fokus ke bidang-bidang ilmu tertentu, salah satunya soal keuangan. Mereka membahas seluk beluk finansial yang mungkin nggak bisa kita dapatkan di pendidikan formal. Namun sayangnya, nggak semua orang ternyata menyambut baik konten-konten yang diunggah akun keuangan ini. Ada yang justru menganggap kalau mereka fear-mongering atau “menjual” ketakutan dengan membeberkan biaya hidup tinggi masyarakat urban. Hmm.. benarkah demikian?
ADVERTISEMENTS
Akun-akun penyedia informasi keuangan, seperti Jouska, Big Alpha, atau Ellen May banyak disukai terutama generasi milenial karena dianggap mampu menjawab kebutuhan pengetahuan finansial mereka
Tak bisa dimungkiri kalau kehadiran akun-akun finansial di media sosial saat ini bagaikan oase di padang gurun. Apalagi dalam penyampaian informasi seputar keuangan, mereka banyak menggunakan bahasa-bahasa sederhana yang mudah dimengerti. Akun-akun ini rajin memberikan ilmu bagaimana mengatur keuangan di era seperti sekarang, bagaimana investasi yang cocok untuk anak muda, bagaimana cara bermain saham, dan masih banyak lainnya. Inilah yang jadi alasan kenapa akun finansial seperti itu banyak disukai. Tujuan utama mereka memang membuat masyarakat lebih melek finansial.
ADVERTISEMENTS
Mereka juga kerap mengunggah kisah-kisah yang dikirim para pengikutnya seputar masalah keuangan. Biasanya kemudian disertai solusi atas permasalahan tersebut
Nggak cuma menyajikan info tentang keuangan atau finansial aja, tapi akun-akun di atas juga sering membeberkan curhatan pengikutnya –atau kliennya– soal masalah keuangan mereka, ada yang terlilit utang ratusan juta, ada yang boros banget sama gajinya, dan lain sebagainya. Biasanya unggahan itu akan disertai kritik beserta masukan juga, siapa tahu ada yang punya problematika serupa.
ADVERTISEMENTS
Tapi nggak jarang juga akun-akun ini blak-blakan soal biaya hidup masyarakat urban, seperti yang baru-baru ini viral, akun Jouska mengunggah biaya TK di Jakarta yang harganya nggak masuk akal
View this post on InstagramSelamat datang di Jakarta. Silakan pilih sekolah kesayangan buat anak Ayah & Bunda..
Beberapa waktu lalu warganet sempat dibuat tertohok dengan unggahan akun Jouska yang membeberkan biaya Taman Kanak-kanak (TK) di Jakarta. Harganya sangat variatif, mulai dari belasan hingga ratusan juta! Tentu saja fakta tersebut membuat warganet terutama yang mungkin tinggal di kota kecil, kaget bukan main. Ada juga akun yang sempat mengunggah besaran gaji para pekerja, di mana informasi itu berdasarkan pengakuan dari pengikutnya sendiri. Ternyata nggak sedikit yang gajinya sudah menyentuh angka 3 digit!
ADVERTISEMENTS
Ternyata ada yang menangkap informasi-informasi di atas sebagai sesuatu yang menakutkan. Mungkin kamu termasuk yang justru jadi merasa tersudutkan dengan adanya fakta tersebut…?
Trus liat postingan ini, gw mikir Akun2 keuangan kalo posting biaya sekolah kenapa nampilinnya yg mahal2 dah. Posting juga biaya TK yg di kampung2 dong. As if, semua harus masuk ke TK-TK ini 😂 pic.twitter.com/NxvWMMBYiJ
— Tira a.k.a PAK YUTUB (@tanganbelang_id) December 10, 2019
Entah, mungkin bagi sebagian orang informasi-informasi di atas termasuk nggak biasa, bahkan cenderung mengejutkan. Alhasil, bukannya terinspirasi tapi orang-orang ini malah merasa minder, takut, tertekan, dan auto nggak pede. Kemungkinan memang karena kurang sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Atau bisa jadi mereka kesal karena sebenarnya yang lebih murah –jika konteksnya biaya sekolah– banyak, tapi yang disorot justru yang mahal-mahal.
Justru supaya orang termotivasi dong, gue pikir itu bagus. Karna emang Jouska kan konsultan keuangan independen, yg dimana pasarnya menengah keatas. Secara digital marketing, softselling nya bagus loh pendekatan dengan menyediakan konten edukasi dan storytelling yg nyata. https://t.co/tmDCCLypg6
— jack (@jackjackparrr) December 10, 2019
Tapi ada juga yang justru merasa termotivasi dengan unggahan akun-akun finansial itu, termotivasi untuk bekerja lebih keras agar bisa punya gaji besar, menyekolahkan anak di sekolah mahal, atau agar bisa investasi demi masa depan.
Sebetulnya nggak ada yang salah atau benar sih, namanya manusia tentu punya pemikiran yang beda-beda dalam menyikapi sesuatu. Sejauh pemikirannya nggak merugikan orang lain sih rasanya nggak masalah. Misalnya kurang cocok dengan unggahan-unggahan akun finansial, tinggal nggak usah di-follow aja ‘kan beres? Perkara mau mencari ilmu tentang keuangan, masih banyak kok sumber lain yang bisa digali, bisa dari buku, website, atau cari akun lain yang sekiranya lebih “low-standard“~