Belakangan media sosial dibuat heboh dengan kasus dugaan pelecehan seksual dan perundungan pegawai di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Hingga saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan terkait surat terbuka korban MS yang diceritakan mendapat perlakukan tak wajar selama beberapa tahun hingga membuat kondisi mentalnya terganggu.
Namun, belum tuntas penyelidikan tersebut, terduga pelaku mengambil tindakan akan melaporkan balik korban ke polisi. Hal tersebut disampaikan oleh pengacara dari terduga pelaku RT dan EO. Menurur Tegar, tuduhan yang dilontarkan MS telah merugikan kliennya hingga menjadi bulan-bulanan warganet Indonesia.
ADVERTISEMENTS
Terduga pelaku akan melaporkan balik MS lantaran identitas yang tersebar. Hal itu dikatakan membuat mereka mengalami perundungan dari masyarakat
Update kasus bully dan pelecehan di KPI
Para terduga PELAKU akan MELAPORKAN BALIK korban MS karena mereka merasa dirugikan tercemarnya nama baik mereka. https://t.co/mGV6YXmzdb pic.twitter.com/nHL4HjWQMY— Mazzini (@mazzini_gsp) September 6, 2021
Para terduga pelaku pelecehan seksual terhadap MS, berniat melaporkan balik atas pencemaran nama baik. Menurut kuasa hukum dari RT dan EO, kasus yang menjadi bola panas di masyarakat ini merugikan sang klien. Mereka dikatakan menjadi korban perundungan oleh publik, bahkan sampai menyerang keluarga dan kerabat dekat.
“Akibat rilis itu, identitas pribadi klien kami ikut tersebar, yang terjadi adalah cyber bullying. Kami pikir akan menimbang secara serius untuk melakukan pelaporan balik terhadap si pelapor,” tutur Tegar dikutip dari pemberitaan Kompas, Selasa (7/9).
Kuasa hukum terduga pelaku RM juga menegaskan bahwa kliennya sangat dirugikan atas rilis yang dibuat oleh MS. Oleh karena itu terduga pelaku juga berencana melakukan hal serupa. Dua kuasa hukum ini membantah bahwa kliennya telah melakukan pelecehan seksual seperti yang dituduhkan oleh korban.
ADVERTISEMENTS
MS sempat membuat surat terbuka kedua. Ditujukkan untuk publik, sekaligus mengingatkan supaya melakukan bullying kepada pelaku dan keluarganya
Sebab suratnya viral dan menjadi konsumsi publik, MS merasa bersyukur laporan kepada pegawai KPI yang merundung bisa langsung ditindaklanjuti oleh kepolisian. Maka dari itu, pada Minggu (5/9) MS mengunggah surat pernyatan kedua mengucapkan terima kasih kepada warganet. Ia meminta semua pihak untuk mengawal dan memantau perkembangan dari kasus yang dilaporkan. Di sisi lain, MS juga mengingatkan publik untuk menjaga ketikan jarinya, dia tak mau pelaku dan keluarganya mengalami kondisi kesehatan mental serupa.
“Saya khawatir keluarga pelaku, seperti: istri, anak, orang tuanya mendapatkan dampak psikis atau trauma berkepanjangan seperti yang saya alami. Apalagi, anak dari pelaku. Masa depan Indonesia berada di tangan generasi berikutnya,” tulis MS dalam keterangan.
Dikatakan bahwa korban merasa kasihan keluarga terduga pelaku juga menjadi perundungan warganet. Ia menekankan bahwa orang yang ada di sekitar pelaku tak bersalah, sebab yang seharusnya diminta pertanggungjawaban adalah pegawai KPI yang telah dirilisnya. Meski demikian, ia tak membenarkan sebuah tindakan perundungan di balik dengan bullying serupa.
ADVERTISEMENTS
Sebelumnya, kasus bermula dari surat yang ditulis oleh MS tersebar ke media sosial. Ia mengaku telah dilecehkan dan dirundung sejak 2012 dan puncaknya terjadi pada 2015
Trigger Warning! Bejatnya kelakuan ASN di @KPI_Pusat #KomisiPenyiaranIndonesia #PelecehanSeksual pic.twitter.com/CAVc27mvta
— Like A Gie (@LastDefense19) September 1, 2021
Dalam keterangan yang beredar dikatakan MS mendapat perlakuan tak wajar dari rekan kerjanya di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Perundungan bermula pada 2012 dan puncaknya pada 2015. MS yang saat itu tengah bekerja berulang kali mengalami kejadian tak mengenakkan. Lima orang rekan kerjanya menelanjangi, memiting dan melecehkan dirinya dengan cara mencoret kemaluan MS memakai spidol.
Ia sempat mengadukan kejadian kepada atasan di KPI, tetapi hanya berujung pemindahan ruangan dari terduga pelaku. Dari sana ia tetap mendapat perundungan hingga kesehatan mentalnya terganggu dan didiagnosa menderita Post Traumatic Stess Disorder (PTSD) oleh dokter.
Penyelesaian yang dilakukan KPI nyatanya justru bertambah buruk terhadap hubungan MS dan rekan kerja. Ia semakin disudutkan dicibir “manusia lemah dan si pengadu”. MS juga sempat mengadukan keresahannya kepada Polsek Gambir sebanyak dua kali, tetapi tak ditanggapi dengan serius. Hingga pada akhirnya ia memilih membuat surat terbuka untuk publik dan Presiden Joko Widodo. Belum lama ini melalui pengacaranya, MS melaporkan lima orang terduga pelaku ke Polres Metro Jakarta Pusat, yakni RM, FP, RT, EO, dan CL.